DISUSUN OLEH
Andika Dwi Indra I 111110377 / 2011
Bagus Setiawan 111110384 / 2011
SEKOLAH TINGGI INFORMATIKA dan KOMPUTER INDONESIA
MALANG
2014
“SISTEM PENGATURAN ANGKUTAN UMUM UNTUK MENGURANGI KEMACETAN DAN MENINGKATKAN EFISIEN WAKTU DENGAN MENGGUNAKAN RFID”
Andhika Dwi Indra I, Bagus Setiawan, Kevin Yosua Leonardy
Program Studi Teknik Informatika
Sekolah Tinggi Informasi dan Komputer Indonesia
Jalan Raya Tidar 100 Malang
Mekanisme kerja Sistem RFID di Terminal
1.Angkutan umum yang terpasang tag RFID masuk ke Terminal atau Halte
2.Pembaca RFID di terminal atau halte akan membaca informasi yang ada di tag angkutan umum dan kemudian informasi tersebut akan diteruskan ke system computer untuk diolah.
3.Data dari angkutan tersebut akan muncul dilayar pemberitahuan antara lain no. kendaraan, jurusan kendaraan, waktu kedatangan dan waktu meninggalkan terminal atau halte.
4.Pemberitahuan akan diberikan kepada angkutan umum jika waktu yang telah ditentukan oleh terminal atau halte untuk segera meninggalkan terminal atau halte guna mengurangi jarak antar angkutan dan mengurangi kemacetan.
Pihak – Pihak yang Terkait
Karena masalah ini menyangkut masalah sehari dan vital, maka banyak pihak yang turut dilibatkan dalam menyelesaikan masalah ini. Pihak – pihak yang terlibat antara lain :
1.Pemerintah Pusat dan DPR dalam membatasi kepemilikan kendaraan pribadi, mendanai sistem ini.
2.Kementrian Perhubungan Republik dalam memfasilitasi pembangunan halte-halte guna menunggu angkutan umum.
3.Kementrian Komunikasi dan Informasi, dalam membangun jaringan sistem ini.
4.Polisi terutama Korps Lalu Lintas, dalam menertibkan dan mengawasi jalannya implementasi gagasan ini.
5.Pengurus Paguyuban, dalam menertibkan, mengawasi, memberi penyuluhan pada anggotanya. Juga merawat & menjaga peralatan yang telah dibangun.
6.Pemilik angkutan umum swasta dalam meningkatkan kualitas pelayanan dengan peremajaan kendaraan.
7.Seluruh penduduk Indonesia, dalam mendukung dan menjalankan gagasan ini dengan sehingga tujuan dapat dicapai.
Langkah-Langkah Strategis Implementasi
Agar sistem ini dapat berjalan dengan baik, maka dibutuhkan langkah-langkah strategis khusu dalam upaya mengimplementasikannya, berikut langkah – langkah startegis antara lain :
1.Peremajaan kendaraan oleh pemilik angkutan dan dibantu pemerintah agar tidak memberatkan pemilik.
2.Penyuluhan sistem ini kepada penduduk Indonesia oleh Pemerintah Pusat/Daerah.
3.Membangun halte-halte kecil oleh pemerintah daerah dan paguyuban sebagai penentu lokasi.
4.Pemasangan alat reader RFID pada setiap halte-halte, juga Server sistem informasi, dan alat transponder pada angkutan umum oleh pemilik angkutan.
5.Pelatihan dalam merakit dan memodifikasi kendaraan oleh pemerintah dengan bantuan lembaga-lembaga pendidikan dalam nantinya kendaraan pribadi yang disita.
6.Pemerintah Pusat dan DPR dalam merumuskan undang-undang mengenai pembatasan kendaraan pribadi, dimana mengatur pemerintah berhak menyita kendaraan pribadi jika melebihi dari yang diperbolehkan.
7.Pemerintah dan masyarakat umum mengolah kendaraan pribadi menjadi angkutan umum, memproduksi ulang guna dieksport.
Teknis Implementasi
Pengimplementasian gagasan ini adalah dengan menaruh disetiap halte reader RFID yang menggunakan frekuensi yang mampu menangkap transponder dari rentang jarak 3-5m. Hal ini dilakukan agar mempermudah pengenalan angkutan umum. Sedangkan pada angkutan umum Transponder RFID dipasang pada kaca kendaraan, sehingga saat angkutan tersebut mendekati halte tersebut angkutan tersebut dapat dikenali.
Selanjutnya adalah menghubungkan reader dengan server database sistem ini. Dimana didalam database tersebut ada sebuah antrian yang berisi angkutan apa saja yang sedang beroperasi, dengan adanya tiap reader RFID di halte, berguna sebagai penanda (checkpoint) sampai dimana angkutan tersebut berada. Jadi semua jalannya angkutan dapat dipantau jarak atau jeda antar dua angutan yang sejalan, agar tidak terjadi persaingan sesama sopir angkutan. Selain itu disetiap halte ada LCD atau lampu LED yang terhubung dengan sistem ini, guna memberi tahu penumpang yang sedang beroperasi, dan memperkirakan waktu kedatangan angkutan. Waktu kedatangan angkutan diperhitungkan dengan menghitung jarak halte sebelumnya dengan halte saat ini, dimana perhitungan menggunakan kecepatan rata-rata angkutan umum. Kedepannya bila jumlah kendaraan umum berkurang drastik maka otomatis kecepatan rata-rat angkutan bertambah atau digantikan dengan monorel.
Peluang dan Tantangan dalam Implementasi Sistem ini
Adapun peluang yang didapatkan dari sistem ini Antara lain :
1.Berkurangnya jumlah kendaraan pribadi, yang berdampak pada berkurangnya kemacetan lalu lintas.
2.Terciptanya industri kendaraan dalam negeri dalam mengolah kendaraan sitaan.
3.Sehabis pemilu 2014 ini, akan terjadi penguatan nilai kurs rupiah, dikarena masuknya investor menanamkan modalnya diIndonesia.
4.Berkurangnya penggunaan BBM dan polusi udara.
Tantangan yang akan dihadapi dalam penerapan sistem ini adalah :
1.Pemerintah tidak berani dalam menegakkan peraturan ini sebab setelah pemilu 2014, perpindahan tongak kepemimpinan yang baru kami rasa masih mencari image dari penduduk.
2.Terjadi protes dari penduduk yang tidak menerima implementasi pembatasan kendaraan pribadi ini yang mamapu merembet pada kudeta.
3.Penduduk belum siap dalam memanfaatkan kendaraan pribadi bekas untuk diolah menjadi produk dalam negeri yang memiliki nilai jual dipasar internasional.
4.Karena penerapan sistem ini menggunakan jaringan maka bukan tidak mungkin terjadi masalah berkaitan dengan keamanan jaringan dan konektifitas.
5.Berkurangnya lapangan pekerjaan seperti : juru parkir.
6.Berkurangnya pendapatan pemerintah dari pajak kendaraan.
Andhika Dwi Indra I, Bagus Setiawan, Kevin Yosua Leonardy
Program Studi Teknik Informatika
Sekolah Tinggi Informasi dan Komputer Indonesia
Jalan Raya Tidar 100 Malang
RINGKASAN
Meningkatnya mobilitas penduduk Indonesia, berdampak pada membludaknya kendaraan pribadi, yang tidak diimbangi pembangun infrastruktur yang memadai. Solusi yang ditawarkan pemerintah adalah pelebaranjalan, namun juga perlu dilihat dilapangan, rumah penududuk sangat padat. Dilain sisi, pemerintah tidak berani membatasi kepemilikan kendaraan pribadi, juga mudahnya fasilitas kredit.
Angkutan Umum terutama yang berada didalam kota, mulai kehilangan penggunanya, hal ini dikarenakan angkutan umum menunggu penumpang hingga penuh. Padahal, angkutan umum mampu menghemat penggunaan BBM, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi sehingga kemacetan berkurang. Dibandingkan membangun monorel, angkutan umum yang sudah ada dibuat seefisien mungkin. Hal ini dapat terjadi dengan penertiban angkutan umum dengan membuat jadwal keberangkatan angkutan umum terstruktur.
Guna terbentuknya sistem tersebut kami menggunakan teknologi RFID, yang ditambah dengan sistem informasi yang digunakan untuk mengatur jalannya jadwal angkutan umum. Dengan demikian terbentuk tranportasi yang nyaman dan cepat
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Membludaknya kendaraan pribadi, fasilitas infrastuktur yang tak mampu mengimbangi, menjadi salah satu lingkaran setan dalam dunia transportasi di Indonesia. Sikap pemerintah yang tidak tegas dalam membatasi kepemilikan kendaraan pribadi dan fasilitas kredit yang mudah, serta didorong kebutuhan mobilitas yang tinggi, menyebabkan kebutuhan akan alat transportasi yang cepat dan ekonomis tidak terbendung lagi. Namun tidak diimbanginya pembangunan infrastruktur jalan yang memadai, sehingga kemacetan tidak bias dihindarkan.
Akibat dari tingginya kendaraan pribadi, menyebabkan menurunnya jumlah angkutan umum. Menurunnya jumlah angkutan umum berbanding lurus dengan peminat angkutan umum. Kurangnya peminat angkutan umum, membuat persaingan yang tidak sehat diantara sopir angkutan umum. Persaingan tidak sehat ini menjadikan jalan layaknya ajang balap, padahal setiap paguyuban angkutan umum telah membuat peraturan agar sesama sopir angkutan umum tidak sampai berebut penumpang.
Kurangnya ketegasan pemerintah dalam membatasi kepemilikan kendaraan pribadi ikut andil dalam “memacetkan” jalan. Menurut data Badan Pusat Statistik ditahun 2010, jumlah penduduk di Indonesia 237.641.326 orang, sedangkan jumlah kendaraan bermotor 94.373.324, dari data tersebut dapat kita lihat jumlah kendaraan bermotor hampir setengah dari jumlah penduduk di Indonesia. Padahal dalam data itu melibatkan Penghuni Tidak Tetap (Tuna Wisma, Pelaut, Rumah Perahu, dan Penduduk Ulang-Alik). Bila dianggap dalam satu kelurga terdiri dari ayah, Ibu dan 2 anak, maka :
237.641.326 / 4 = 59.410.332 Keluarga, lalu jumlah kendaraan bermotor sebanyak 94.373.324 buah, artinya setiap kelurga paling tidak memiliki 1 kendaraan bermotor. Hal ini wajar sebab dilapangan dalam sebuah keluarga ada yang semua anggota keluarganya memiliki kendaraan pribadi. Bila hal ini dibiarkan saja, bukan tidak mungkin memperkeruh masalah BBM serta lahan parkir yang semakin sempit.
Tujuan dan Manfaat
Penulisan ini mempunyai tujuan untuk :
•Memberikan alternative pada waktu tunggu angkot yang lama
•Meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan angkot
•Dapat mengurangi kemacetan karena jumlah kendaraan pribadi berkurang, dan beralih menggunakan angkutan umum
•Penggunaan BBM untuk kendaraan pribadi menjadi lebih berkurang dan subsidi pemerintah dapat secara optimal penggunaannya
•Memberikan alternative pada waktu tunggu angkot yang lama
•Meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan angkot
•Dapat mengurangi kemacetan karena jumlah kendaraan pribadi berkurang, dan beralih menggunakan angkutan umum
•Penggunaan BBM untuk kendaraan pribadi menjadi lebih berkurang dan subsidi pemerintah dapat secara optimal penggunaannya
GAGASAN
RFID Digunakan Sebagai Tanda Pengenal Angkutan Umum
RFID (Radio Frequency Identification) atau Identifikasi Frekuensi Radio adalah sebuah metode identifikasi dengan menggunakan sarana yang disebut label RFID atau transponder (Transmitter + Responder) untuk menyimpan dan mengambil data jarak jauh.
Pada system RFID umumnya tag atau transponder ditempelkan pada kendaraan tersebut, setiap tag atau transponder memiliki informasi yang unik, diantaranya : nomor polisi, merk, nama pemilik, jurusan angkutan, waktu checkin, waktu checkout, terminal, dan data lain dari angkutan umum tersebut. Dan ketika tag atau transponder tersebut mendekati daerah receiver yang dihasilkan dari pembaca RFID yang sudah diset dan disesuaikan, tag akan mengirimkan data yang ada pada tag kepada pembaca RFID, sehingga proses identifikasi angkutan umum dapat dilakukan.
Sistem RFID terdiri dari:
- Tag, sebagai penyimpan data dari angkutan umum
- Antena, berfungsi untuk mentransmisikan signal frekuensi radio antara pembaca dan tag
- Pembaca RFID, berguna untuk membaca data yang yang ditangkap dari tag RFID
- Software, adalah aplikasi pada workstation atau computer yang dapat membaca data dari tag melalui pembaca RFID.
Baik tag dan pembaca RFID diperlengkapi dengan antenna sehingga dapat menerima dan memancarkan gelombang electromagnetik
Solusi terdahulu
Sebenarnya disetiap paguyuban angkutan umum telah diberlakukan peraturan yang mengatur jarak waktu keberangkatan antar angkot satu dengan yang lainnya, namun kurangnya pengguna angkutan umum serta kurangnya penertiban pada titik tertentu membuat jalan semakin macet. Walau dibeberapa daerah telah diterapkan jalur khusus angkutan umum, namun kami rasa tidak semua tempat dapat di implementasikan. Hal ini, mengingat padatnya pemukiman penduduk yang tidak memungkinkan pelebaran jalan guna membangun jalur khusus angkutan umum, juga implementasi solusi ini relatif mahaldan membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Penerapan Teknologi RFID Guna mengatur waktu keberangkatan angkutan umum
Seperti yang telah dijelaskan pada gagasan diatas bahwa RFID digunakan sebagai tanda pengenal angkutan umum. Dan juga solusi yang diterapkan oleh paguyupan angkutan umum masih belum berjalan dengan semestinya maka dari itu dengan ada nya teknologi RFID ini diharapkan mampu mengontrol waktu angkutan umum supaya waktu pemberhentiannya tepat waktu dan tidak menimbulkan kemacetan di jalan.
Konsep Sistem RFID Pada Terminal dan Halte
Dengan tersedianya database disetiap angkutan umum yang ada pada kantor paguyupan dan dapat diakses dari setiap terminal yang ada. Maka jika ada sebuah angkutan umum yang akan memasuki terminal atau halte, data dari tag RFID tersebut akan dibaca oleh alat pembaca RFID dan system komputer akan mencatat waktu kedatangan, nomor kendaraan dan jurusan angkutan umum tersebut, kemudian angkutan umum tersebut dapat menunggu penumpang diterminal atau halte sesuai waktu yang ditentukan. Dan jika waktu pemberhentian angkutan tersebut sudah habis maka akan ada pemberitahuan yang menyatakan angkutan tersebut sudah harus berjalan lagi menuju terminal atau halte selanjutnya, dan jika angkutan umum tersebut meninggalkan terminal atau halte receiver atau pembaca RFID akan mencatat sama seperti waktu kedatangan hanya bedanya jika meninggalkan terminal atau halte sistem mencatat waktu meninggalkan, dan akan berulang terus pada terminal dan halte selanjutnya.
Penerapan Teknologi RFID Guna mengatur waktu keberangkatan angkutan umum
Seperti yang telah dijelaskan pada gagasan diatas bahwa RFID digunakan sebagai tanda pengenal angkutan umum. Dan juga solusi yang diterapkan oleh paguyupan angkutan umum masih belum berjalan dengan semestinya maka dari itu dengan ada nya teknologi RFID ini diharapkan mampu mengontrol waktu angkutan umum supaya waktu pemberhentiannya tepat waktu dan tidak menimbulkan kemacetan di jalan.
Konsep Sistem RFID Pada Terminal dan Halte
Dengan tersedianya database disetiap angkutan umum yang ada pada kantor paguyupan dan dapat diakses dari setiap terminal yang ada. Maka jika ada sebuah angkutan umum yang akan memasuki terminal atau halte, data dari tag RFID tersebut akan dibaca oleh alat pembaca RFID dan system komputer akan mencatat waktu kedatangan, nomor kendaraan dan jurusan angkutan umum tersebut, kemudian angkutan umum tersebut dapat menunggu penumpang diterminal atau halte sesuai waktu yang ditentukan. Dan jika waktu pemberhentian angkutan tersebut sudah habis maka akan ada pemberitahuan yang menyatakan angkutan tersebut sudah harus berjalan lagi menuju terminal atau halte selanjutnya, dan jika angkutan umum tersebut meninggalkan terminal atau halte receiver atau pembaca RFID akan mencatat sama seperti waktu kedatangan hanya bedanya jika meninggalkan terminal atau halte sistem mencatat waktu meninggalkan, dan akan berulang terus pada terminal dan halte selanjutnya.
Mekanisme kerja Sistem RFID di Terminal
1.Angkutan umum yang terpasang tag RFID masuk ke Terminal atau Halte
2.Pembaca RFID di terminal atau halte akan membaca informasi yang ada di tag angkutan umum dan kemudian informasi tersebut akan diteruskan ke system computer untuk diolah.
3.Data dari angkutan tersebut akan muncul dilayar pemberitahuan antara lain no. kendaraan, jurusan kendaraan, waktu kedatangan dan waktu meninggalkan terminal atau halte.
4.Pemberitahuan akan diberikan kepada angkutan umum jika waktu yang telah ditentukan oleh terminal atau halte untuk segera meninggalkan terminal atau halte guna mengurangi jarak antar angkutan dan mengurangi kemacetan.
Pihak – Pihak yang Terkait
Karena masalah ini menyangkut masalah sehari dan vital, maka banyak pihak yang turut dilibatkan dalam menyelesaikan masalah ini. Pihak – pihak yang terlibat antara lain :
1.Pemerintah Pusat dan DPR dalam membatasi kepemilikan kendaraan pribadi, mendanai sistem ini.
2.Kementrian Perhubungan Republik dalam memfasilitasi pembangunan halte-halte guna menunggu angkutan umum.
3.Kementrian Komunikasi dan Informasi, dalam membangun jaringan sistem ini.
4.Polisi terutama Korps Lalu Lintas, dalam menertibkan dan mengawasi jalannya implementasi gagasan ini.
5.Pengurus Paguyuban, dalam menertibkan, mengawasi, memberi penyuluhan pada anggotanya. Juga merawat & menjaga peralatan yang telah dibangun.
6.Pemilik angkutan umum swasta dalam meningkatkan kualitas pelayanan dengan peremajaan kendaraan.
7.Seluruh penduduk Indonesia, dalam mendukung dan menjalankan gagasan ini dengan sehingga tujuan dapat dicapai.
Langkah-Langkah Strategis Implementasi
Agar sistem ini dapat berjalan dengan baik, maka dibutuhkan langkah-langkah strategis khusu dalam upaya mengimplementasikannya, berikut langkah – langkah startegis antara lain :
1.Peremajaan kendaraan oleh pemilik angkutan dan dibantu pemerintah agar tidak memberatkan pemilik.
2.Penyuluhan sistem ini kepada penduduk Indonesia oleh Pemerintah Pusat/Daerah.
3.Membangun halte-halte kecil oleh pemerintah daerah dan paguyuban sebagai penentu lokasi.
4.Pemasangan alat reader RFID pada setiap halte-halte, juga Server sistem informasi, dan alat transponder pada angkutan umum oleh pemilik angkutan.
5.Pelatihan dalam merakit dan memodifikasi kendaraan oleh pemerintah dengan bantuan lembaga-lembaga pendidikan dalam nantinya kendaraan pribadi yang disita.
6.Pemerintah Pusat dan DPR dalam merumuskan undang-undang mengenai pembatasan kendaraan pribadi, dimana mengatur pemerintah berhak menyita kendaraan pribadi jika melebihi dari yang diperbolehkan.
7.Pemerintah dan masyarakat umum mengolah kendaraan pribadi menjadi angkutan umum, memproduksi ulang guna dieksport.
Teknis Implementasi
Pengimplementasian gagasan ini adalah dengan menaruh disetiap halte reader RFID yang menggunakan frekuensi yang mampu menangkap transponder dari rentang jarak 3-5m. Hal ini dilakukan agar mempermudah pengenalan angkutan umum. Sedangkan pada angkutan umum Transponder RFID dipasang pada kaca kendaraan, sehingga saat angkutan tersebut mendekati halte tersebut angkutan tersebut dapat dikenali.
Selanjutnya adalah menghubungkan reader dengan server database sistem ini. Dimana didalam database tersebut ada sebuah antrian yang berisi angkutan apa saja yang sedang beroperasi, dengan adanya tiap reader RFID di halte, berguna sebagai penanda (checkpoint) sampai dimana angkutan tersebut berada. Jadi semua jalannya angkutan dapat dipantau jarak atau jeda antar dua angutan yang sejalan, agar tidak terjadi persaingan sesama sopir angkutan. Selain itu disetiap halte ada LCD atau lampu LED yang terhubung dengan sistem ini, guna memberi tahu penumpang yang sedang beroperasi, dan memperkirakan waktu kedatangan angkutan. Waktu kedatangan angkutan diperhitungkan dengan menghitung jarak halte sebelumnya dengan halte saat ini, dimana perhitungan menggunakan kecepatan rata-rata angkutan umum. Kedepannya bila jumlah kendaraan umum berkurang drastik maka otomatis kecepatan rata-rat angkutan bertambah atau digantikan dengan monorel.
Peluang dan Tantangan dalam Implementasi Sistem ini
Adapun peluang yang didapatkan dari sistem ini Antara lain :
1.Berkurangnya jumlah kendaraan pribadi, yang berdampak pada berkurangnya kemacetan lalu lintas.
2.Terciptanya industri kendaraan dalam negeri dalam mengolah kendaraan sitaan.
3.Sehabis pemilu 2014 ini, akan terjadi penguatan nilai kurs rupiah, dikarena masuknya investor menanamkan modalnya diIndonesia.
4.Berkurangnya penggunaan BBM dan polusi udara.
Tantangan yang akan dihadapi dalam penerapan sistem ini adalah :
1.Pemerintah tidak berani dalam menegakkan peraturan ini sebab setelah pemilu 2014, perpindahan tongak kepemimpinan yang baru kami rasa masih mencari image dari penduduk.
2.Terjadi protes dari penduduk yang tidak menerima implementasi pembatasan kendaraan pribadi ini yang mamapu merembet pada kudeta.
3.Penduduk belum siap dalam memanfaatkan kendaraan pribadi bekas untuk diolah menjadi produk dalam negeri yang memiliki nilai jual dipasar internasional.
4.Karena penerapan sistem ini menggunakan jaringan maka bukan tidak mungkin terjadi masalah berkaitan dengan keamanan jaringan dan konektifitas.
5.Berkurangnya lapangan pekerjaan seperti : juru parkir.
6.Berkurangnya pendapatan pemerintah dari pajak kendaraan.
KESIMPULAN
Gagasan ini memerlukan biaya yang lebih murah jika dibandingkann dengan membuat jalur sendiri. Dan juga sistem ini cepat diimplentasi pada prakteknya, namun sistem ini masih memiliki beberapa masalah sosial seperti pembatasan kendaraan pribadi.
Prediksi Hasil
Bila terjadi sinergi antar pihak-pihak terkait maka penulis dapat memprediksikan hasil sebagai berikut :
1.Mengurangi kemacetan yang ada di Indonesia.
2.Menurunnya konsumsi BBM.
3.Berkurangnya pencemaran lingkungan.
4.Angkutan umum bekerja secara efesien.
5.Munculnya lapangan kerja baru yaitu industry kendaraan dalam negeri yang memiliki daya jual di luar negeri.
6.Keefesienan penduduk dalam bekerja.
Gagasan ini memerlukan biaya yang lebih murah jika dibandingkann dengan membuat jalur sendiri. Dan juga sistem ini cepat diimplentasi pada prakteknya, namun sistem ini masih memiliki beberapa masalah sosial seperti pembatasan kendaraan pribadi.
Prediksi Hasil
Bila terjadi sinergi antar pihak-pihak terkait maka penulis dapat memprediksikan hasil sebagai berikut :
1.Mengurangi kemacetan yang ada di Indonesia.
2.Menurunnya konsumsi BBM.
3.Berkurangnya pencemaran lingkungan.
4.Angkutan umum bekerja secara efesien.
5.Munculnya lapangan kerja baru yaitu industry kendaraan dalam negeri yang memiliki daya jual di luar negeri.
6.Keefesienan penduduk dalam bekerja.
DAFTAR PUSTAKA
Want, Roy.2006.An Introduction to RFID Technology.IEEE CS and IEEE ComSoc.
(Online),(http://gtubicomp2013.pbworks.com/w/file/fetch/64846805/want-rfid.pdf).
http://electronics.howstuffworks.com/gadgets/high-tech-gadgets/rfid.htm, diakses 16 Maret 2014
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=17¬ab=25, diakses 16 Maret 2014
http://www.bps.go.i/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=12& Maret notab=1, diakes 16 Maret 2014
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=17¬ab=12, diakses 17 Maret 2014
http://edorusyanto.wordpress.com/2011/08/04/inilah-wilayah-populasi-motor-terbesar-di-indonesia/, diakses 17 Maret 2014
Want, Roy.2006.An Introduction to RFID Technology.IEEE CS and IEEE ComSoc.
(Online),(http://gtubicomp2013.pbworks.com/w/file/fetch/64846805/want-rfid.pdf).
http://electronics.howstuffworks.com/gadgets/high-tech-gadgets/rfid.htm, diakses 16 Maret 2014
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=17¬ab=25, diakses 16 Maret 2014
http://www.bps.go.i/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=12& Maret notab=1, diakes 16 Maret 2014
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=17¬ab=12, diakses 17 Maret 2014
http://edorusyanto.wordpress.com/2011/08/04/inilah-wilayah-populasi-motor-terbesar-di-indonesia/, diakses 17 Maret 2014